Senin, 12 September 2016

Gowes Asik Waduk Cengklik Via Bolon


Bagi penyuka olahraga sepeda di kota Solo, waduk Cengklik merupakan satu destinasi yang boleh dikatakan paling populer untuk berbagai kalangan, jalan yang rata nyaris tanpa hambatan membuat banyak orang dengan berbagai ragam jenis sepeda memilih tempat ini sebagai destinasi pilihan wisata-olahraga di hari libur.

Waduk Cengklik yang letaknya dekat dengan bandara Adi Sumarmo dan sudah masuk dalam daerah Boyolali bisa ditempuh dengan mudah dari kota Solo, jalanannya pun relatif lempeng dengan menyusuri jalan besar Adi Sucipto, sampai perempatan belok kanan Jalan Adi Sumarmo, hanya yang menjadi tantangan ketika hendak memasuki khawasan waduk jalanan agak sedikit menanjak dengan permukaan tanah yang tidak rata.


Jika bosan dengan rute mainstream tersebut, tidak ada salahnnya mencoba gowes ke waduk Cengklik via Bolon. Rute awalnya bisa sama dengan versi mainstream, perbedaanya ketika sampai di perempatan alih-alih belok kanan ambilah jalan lurus memasuki kompleks perumahan Tni Angkatan Udara.. lurus terus ikuti jalan sampai menemukan gang Desa Tempuran Bolon.



Memasuki Bolon rute didominasi oleh jalan datar perkampungan, dengan kondisi jalan cukup lebar dan relatif rata tidak bergelombang, pemandangan berupa rumah penduduk dan sawah, masih segar minim polusi kendaraan bermotor.


Hanya saja selain jalan perkampungan ada titik yang membuat rute Bolon terasa menyenangkan, yaitu saat menikung melewati jalan tanah sempit dengan sungai kecil disebelahnya. Disini ada sensasi tersendiri, waspada tikungan dengan jalan yang agak menurun bergelombang membuat botol minuman di sepeda bisa terlempar, saya pernah menjumpai seorang goweser botol minumnya terjatuh dan menggelinding masuk ke sungai.. :D


Diujung rute ini biasanya para goweser akan langsung memilih belok jalan ke kanan untuk melanjutkan perjalanan tanpa henti, namun jika kamu merasa punya waktu dan gowes dijadikan sebagai ajang having fun dari ujung jalan boleh lurus kedepan dengan trek yang terlihat menyempit dan ditutupi banyak daun pohon bambu, disana sebenarnya merupakan jalan buntu namun bisalah untuk istirahat sejenak menikmati gemericik air sungai di pintu air. Kadang bahkan kita bisa melihat orang yang sedang asik mancing.




Setelah sejenak berada disana bisa lanjut balik kearah semula, rute perkampungan masih mendominasi sampai akhirnya benar-benar keluar dari desa.. menuju areal persawahan. 


Lanjut dari areal persawahan dengan sedikit gangguan jalan rusak akibat pembangunan jalan tol rute akan tembus sampai Pasar Bangak yang kini jalanannya tampak bersih dan rapi karena lapak para pedagang sudah beralih ke tempat yang baru..



Dari Pasar Bangak kita menyusuri jalanan yang lumayan menantang dengan tanjakan dan turunan dimana sebagian jalannya rusak jadi perlu berhati-hati saat melewatinya. Kita akan melewati setidaknya tiga tanjakan dan diakhiri dengan turunan yang lumayan panjang sampai akhirnya tiba di destinasi utama yaitu waduk Cengklik.


Begitulah, jika dibandingkan dengan rute biasa, gowes asik Waduk Cengklik via Bolon akan memakan waktu lebih lama sekitar 30-45 menit, sebagai tambahan rute gowes Waduk Cengklik via Bolon bisa dilalui dengan mengendarai sepeda apa saja, tak perlu spek yang mewah. 

Semoga bisa menjadi referensi rute gowes seputar kota Solo anda di akhir pekan. Salam.




Rabu, 31 Agustus 2016

Jalan-Jalan Di Kota Sendiri


Sejak kapan pengen banget jalan-jalan (jalan kaki) menyusuri kota sendiri, melalui jalan-jalan kampung dan sekalian hunting foto..

Kemaren akhirnya kesampaian sih muter-muternya.. enak meski akhirnya nggak bisa jalan jauh karena kecapekan..

Hmm.. mungkin itu sebabnya meski senang baca kisah travelling saya sendiri kurang suka melancong.. karena gampang capek.

Anyway berikut beberapa foto hasil jalan-jalan di kota sendiri kemaren.. di kampung batik Laweyan.. menyusuri gang-gang kecil.. sebelumnya foto-foto udah di post di akun instagram @nkndryn














Senin, 29 Agustus 2016

Roti.. Emang Bisa Buat Rame-Rame??


Seorang tetangga.. ibu-ibu, tampak agak gelisah berdiri celingukan didepan warung. Saya yang kebetulan jaga sambil nonton tv bisa melihat gelagatnya walau tak memperhatikan secara pasti.

Tak lama ia pun akhirnya beranikan diri berkata.. "Mas ada roti..?" Tanyanya..

Saya menoleh, "Wah tidak ada bu..tidak jual roti" jawab saya.

Ibu itu masih tetap berdiri dan bukannya pergi ia kemudian malah bertanya "Ibu ada dirumah?"

Dari intonasi pertanyaannya saya tahu ia ingin dipanggilkan ibu saya.. sayapun beranjak masuk kedalam.

Tak lama kemudian ibu saya mentake over pelanggan yang satu ini.. saya mengambil minum di kulkas yang jaraknya agak jauh tapi masih bisa mendengar percakapan mereka.

Setelah semua proses perniagaan selesai saya baru tahu.. apa yang dimaksud roti oleh ibu itu.. dan kenapa ia begitu gelisah mengungkapkannya pada saya perihal barang yang ingin dibelinya.. roti itu bukan sembarang roti.. roti yang tak bisa "dengan mudah" ditenteng kesana sini.. roti yang harus dibungkus dengan plastik.. kalau bisa warna hitam.. dan tidak transparan.

Roti yang... ah.. pokoknya gitu deh.. 

Berhubung sekarang saya tahu kode-kodean ini.. lain kali kalau ada ibu-ibu gelisah yang nanya "ada roti.." saya tak gegabah menjawab.. "Ada bu.. yang kering atau yang basah?"  "Bentuknya bulat, kotak atau lonjong?" "Yang rasa apa?" "Mau buat sendiri atau rame-rame?" 

*plethak* bisa-bisa saya malah ditimpuk toples waper.


Minggu, 21 Agustus 2016

MaxD Oye..


Ban sepeda MTB saya sudah saya ganti dengan ban idaman saya.. maxxis detonator.

 
Saya dapat ban ini dari seller toko online olx.. ban bekas namun masih seperti baru.. dengan harga murah meriah Rp 275.000 sepasang.. plus bonus ban dalam sepasang juga. Saya bilang murah karena jika beli baru satuannya Rp 200.000 an.. belum lagi beli ban dalamnya.. walau akhirnya saya tetep beli ban dalam baru satu karena ban bonusnya meletus waktu dipompa.. 

Ok.. jadi setelah sekitar sebulan pemakaian berikut komentar saya terhadap si maxxis detonator aka MaxD..

Pertama dari outlook terlihat cakep beut.. saya suka desain flat ditengah yg tanpa kembangan.. namun disisinya ada semacam pattern yang cukup lebar hingga cocok untuk dipakai melewati jalan berkerikil...

Ukuran ban 1.50 ternyata buat saya cukup terasa berat untuk digowes karena sebelumnya pakai 1.15.. dulu sempet pengen ganti yang ukuran 2.00 keatas.. sekarang ogah.. ga kebayang betapa menyiksanya..


Si MaxD hobi banget lempar jumroh... ketika melewati jalanan aspal yang banyak kerikilnya dengan kecepatan.. akan terlihat kerikil bertebangan kemana-mana.. suara batu-batu kecil menghantam frame fork rims pun acap terdengar di telinga.

Benda-benda kecil nan runcing keliatannya gampang banget kesengsem sama MaxD.. kalok MaxD lewat tuh benda jalanan bawaanya pengen nempel aja.. untung si MaxD cukup kuat nahan godaan.. lapisan ban ini cukup tebal jadi lumayan aman untuk menanggulangi kebocoran.. pecahan kaca nancep tapi g sampe kena ban dalem.. kalok kerikil sih ga sampe nancep tapi banyak yang nempel pel pel kaya perangko..

Nggak slippery.. pernah nyoba trek basah karena abis kena ujan bahkan turun gerimis.. asik aja diajak ngebut... begitu pula pas rem mendadak (trek kering) karena di tikungan papasan sama ibu-ibu penunggang motor yang the world know lah kaya apa mereka ini kalau bawa motor... ketika rem mendadak ban belakang sampek ngepot tapi nggak bikin jatuh..


Intinya saya puaslah sama ban ini.. tampilannya oke dan performanya  cocok untuk trek di daerah saya yang kebanyakan on road sama jalan kampung yang sedikit tidak rata..

Ya semoga saja Maxxis Detonator ini awet.. karena jelas tidak masuk dalam list upgrade sampai beberapa tahun kedepan. MaxD oye..


Kamis, 18 Agustus 2016

Kisah


Ibu kawan saya kemarin tiba-tiba panjang lebar menceritakan keluh kesah tentang perihal kesusahan yang dialaminya, saya hanya bisa diam dan mendengarkan.

Ibu-ibu penjual di warung makan langganan saya juga tiba-tiba menghujamkan ribuan cerita masa lalunya tepat di depan saya yang lagi asik menikmati es kopi dua ribuan di warungnya.

Apakah wanita memang didesain untuk bercerita pada siapa saja yang ditemuinya, bahkan kepada orang yang belum terlalu kenal??
Atau apakah muka saya sudah sangat sempurna miripnya dengan buku diary sehingga membuat mereka bergairah untuk menceritakan masalah dan cerita kehidupannya??

Ah.. kisah.. setiap manusia baik sengaja atau tidak suka berbagi kisah, lisan atau tulisan beribu kisah per harinya siap tertumpah ruah, online atau offline tersebar secara luar biasah, di koran, di blog di manapun ada kisah, saya ralat bukan hanya wanita, pria pun ikut meramaikan khasanah. 

Kisah, apakah benar kisah yang telah terpublish di blog pribadi, kita ingin semua orang tahu, kita ingin semua orang membaca.. atau hanya karena nafsu sesaat saja,  dimana orang yang kebetulan membongkar file lama kita akan bertanya-tanya, dulu gitu kok sekarang gini. Kisah tak semua orang mau mengerti, tak semua ingin memahami.. tapi toh setiap kisah tetap tersampaikan karena memang niatnya hanya untuk berbagi.

Rabu, 17 Agustus 2016

Dialog Simple Ponakan Yang Bikin Wkwkwk


(Keluar kamar)
Ikshan: "Njuk mik'e ya.." (minta minumnya ya?)
Davin: "Yo shitik wae.." (ya dikit aja)

Hahaha Davin ini lucu kalok ngomong.. pemilihan kata-katanya absurd banget.

(Maenan Badminton Balon)
Ikshan: Tak ewangi ya.. (aku bantuin ya..)
Rafa: Ra sah.. (ga usah)
Ikhsan: La Davin yo diewangi kakak'e og.. (lha Davin juga dibantu kakaknya)
Rafa: Yo ben aku ra seneng diewangi.. aku iso dhewe. (Biarin. Aku ga suka dibantuin.. aku bisa sendiri)

Hahaha kalok Rafa ini sering banget berpikir bahwa ia adalah orang dewasa. Dan lagi-lagi si Ikshan yang notabene paling kecil jadi keki.


Senang melihat pasukan ponakan maen disekeliling.. jaman dulu waktu balita mereka takut ketemu saya.. saking takutnya ampe nangis.. saat seperti itu saya seperti berubah jadi the thing si manusia batu.

Jaman berubah.. tekhnologi sudah maju.. mereka juga perlahan beranjak dewasa (masih anak-anak sih sebenernya).. dan telah mampu mencerna kenyataan bahwa saya juga manusia... sama seperti yang lainnya.

(Dan batu-batupun runtuh dari tubuhku.)


Selasa, 16 Agustus 2016

Tidak Ada Orang Jahat Di Masjid


Hari itu setelah adzan bergema aku beranjak dari tempat dudukku di sudut ruangan dan bergegas berwudhu, setelah itu berjalanlah aku menuju ruang utama masjid, lalu terdengar suara rekaman dari takmir lewat speaker memohon untuk mematikan sejenak handphone masing-masing ketika shalat. Reflek aku menggerayangi kantong celanaku dan tak menemukan hapeku disana, akupun segera berputar menuju tempatku semula tadi saat menunggu adzan.

Alhamdulillah hapeku masih disana tergeletak disamping bapak-bapak. Aku segera berkata bahwa hape itu punyaku.. lalu segera mengambilnya dan mengucapkan terimakasih. Bapak tadi telah menunda wudhunya dan berada disana menunggu sampai pemilik hape kembali, yaitu aku.

Bapak itu bisa saja mengambil hapeku dan pergi namun itu tidak ia lakukan. Subhanallah. Tidak ada orang jahat di masjid.


Senin, 15 Agustus 2016

Aku rindu bermain bola di lapangan, bersama teman-teman di kampungku.


Lapangan hijau yang luas, yang rumputnya tumbuh tak beraturan, yang bahkan sebagian tanahnya retak ketika musim kemarau datang, membentuk lubang-lubang, menjadi sarang bagi binatang sejenis laba-laba garang.

Aku rindu dengan sore yang kuhabiskan di tanah lapang, menyeberang di tepi perkuburan. Mengumpulkan daun cemara yang gugur, menyusunnya membentuk huruf huruf dan kemudian.. api membakar. Kami tertawa riang.

Aku rindu pada kakiku menyentuh tanah.. sebab aspal hanya ada di tengah sana, di jalan raya.

Aku rindu pada bau matahari, dan karena hanya itu yang menerangi. Hari-hari.

Aku rindu pada semua yang hilang.. pada kawan-kawan yang satu persatu mulai pergi berlayar mengarungi samudera kehidupan.



Jumat, 05 Agustus 2016

Beragam Nama, Yang Jualan (Dijual) Ya Itu-Itu Saja.


Banyak nama untuk acara jualan buku di kotaku ini, sebut saja bazar buku murah, pesta sejuta buku, pameran buku, pasar buku.. blablabla..

Namun ketika pernah ke salah satu acara jualan buku tersebut.. rasanya malas untuk pergi ke acara jualan buku selanjutnya.. hla piye jal.. isinya sama, yang jualan sama, harganya sama. Yang jaga parkir sama?? Penjual yang nangkring didepan venue pun sama??? Bosen ga sih... Ga variatif. Ga kreatif. Tempat sama namane thok yang diganti.

Tiba-tiba otak saya berimajinasi liar.. gimana kalok pemerintah kota ini hanya menyediakan tempatnya saja untuk sebuah acara bertajuk pesta buku.. minus lapak-lapak monoton itu.. minus penerbit buku-buku gaje itu (no mention ntar disambit.. :p)

Trus siapa yang jualan? Yang datang kesitu! Yang membeli? Ya yang datang kesitu.

Mengadopsi sistem toko online, siapapun bisa berperan sebagai penjual dan pembeli.. jadi setiap peserta pesta buku yang datang bisa punya pilihan mengapa ia datang kesitu untuk liat-liat kah, beli buku kah, barter kah, jualan kah... nyari gebetan kah... (eaaa.. jomblo seneng nih yee..)

Enak kaan.. jadi dari rumah kita bisa bawa buku yang kira-kira udah g kebaca.. (terserah jumlahnya..dibikin asik aja tapi ga usah sekarung dibawa semua) trus dijual disana.. asik kite pergi bawa buku pulang bawa doku.

Disana kita memungkinkan bertemu dengan orang yang punya hobi sama. Jika ingin jualan kita tinggal duduk dan gelar "dagangan" kita.. jika ingin hunting tinggal berdiri jalan muterin venue.

Dari situ bukan tak mungkin dari setiap transaksi bisa berujung saling kenalan.. bikin komunitas..

Kedepannya komunitas pecinta buku pun jadi punya tempat untuk mengaktualisasi diri..

Kapan ya impian gilaku ini akan tercipta.. setidaknya acara pesta buka, bazar buku, pameran buku tak lagi menjadikan buku hanya sebagai komoditi, udah gitu dimonopoli.. kemon biarkan pecinta buku berpesta dengan caranya sendiri.



Kamis, 04 Agustus 2016

Olx Atau Bukalapak?

Ada banyak aplikasi toko online yang bisa dimanfaatkan untuk hunting barang kebutuhan kesukaan namun yang terpasang di hape saya cuma dua.. Olx dan Bukalapak.

Keduanya sangat bermanfaat, saya suka hunting part sepeda dan gadget (pc, kamera). Olx dan Bukalapak (BL) punya fitur dan segmentasi jualan masing-masing.

Namun ketika harus memilih.. dari pengalaman belanja di kedua onlineshop selama ini, saya pribadi memilih Olx sebagai kampiun.

Alasannya saya belum punya rekening bank dan masih suka beli barang second lokalan (dalam kota) berbasis cod atau ketemu langsung.. Nah Olx lebih banyak dipenuhi individu (pastinya mau cod) BL kebanyakan toko atau makelar dsb.. (beberapa bahkan ga menerima cod walau berada dalam satu kota.. wealaah..) 

Olx mempunyai fitur dimana lokasi penjual yang sudah kita set tidak akan berubah jika kita keluar dari aplikasi.. sementara Bukalapak (BL) akan mereset ulang lokasi menjadi seluruh Indonesia ketika keluar dari App. (Keliatannya simpel tapi penting tauu)

Olx memungkinkan calon pembeli kontak langsung ke nomor pribadi penjual via sms, wa, telp. (Cepat, tepat). BL kontak via app message.. (balesnya jadi lama gitu..nunggu user ol dulu.. pffft)

Makanya dari 4 transaksi via Olx semuanya bisa terealisasi dengan mudah. Liat barang, suka langsung Sms, tawar, deal, janji cod, barang didapat.

Sementara via BL pernah 3 kali transaksi hasilnya gagal semua... Suka. Kontak via BL message.. nunggu lama.. ga dijawab-jawab.. ga jadi. Suka. Kontak via BL message.. janji cod.. ditungguin.. dikirimin pesan lewat BL message.. lama ga dijawab.. ga jadi.. hufft.

Jadi udah pasti buat kebutuhan saya, transaksi lewat Olx lebih joss daripada Bukalapak. Tapi karena saya suka sepeda.. Bukalapak masih sering saya buka.. disana banyak dipenuhi toko-toko besar.. sepeda dan asesoris highend berharga puluhan juta banyak bertebaran disana. Barang yang dijual pastinya lebih komplit daripada Olx yang rata-rata dipenuhi individu yang menjajakan barang sekenan. Tapi ya ibarat mall Bukalapak cuma buat tempat ngadem dan cuci mata saja.. kalok mau beli barang tetep larinya ke Olx yang lebih "merakyat".

Jadi Olx atau Bukalapak nih.. Olx aja deh.


Senin, 01 Agustus 2016

Menjawab Tantangan Aeng-Aeng Komandan Blogcamp


Giveaway terbaru Pakde Cholik.. Ndangdutan..

Nyanyi dangdut itu susah, menyesuaikan mimik muka dengan lagu lebih susah
Contohnya saat mau nyanyi lagu dari Meggy Z berjudul Sakit Gigi ini susah gimana caranya akting sakit hati karena cintaaa... (iyaaa jomblo memang pasti belum pernah diputusin)
Pada akhirnya saya menyadari..
Muka-muka orang yang sedang sakit hati dan kelaparan itu beda tipis, cekidot...







Kamis, 28 Juli 2016

Terbaca Kembali Lain Waktu


Sering saya berpikir tulisan-tulisan saya jelek. Apalagi jika dibandingan tulisan blogger lain.. saya semakin merasa minder saja.. hal itu didukung dengan fakta saya tak pernah masuk daftar pemenang di suatu giveaway jika yang dilombakan berupa tulisan.. dua kontes yang saya masuk daftar pemenang.. yaitu kontes foto dan video.

Mungkin itu yang membuat saya jarang ngepost di blog layaknya orang-orang. Karena saya sadar tulisan saya datar.. tulisan saya sampah.

***************

Sesampah-sampahnya sampah masih bisa menarik sebagian orang untuk mencari sesuatu didalamnya. Entah akhirnya ada barang yang berharga terselip di timbunan atau tidak.. sampah masih memiliki nilai untuk dikorek.. disibak-sibak.. dipilah-pilih.

Seharusnya kita memang harus meninggalkan tulisan setiap hari.. tentang apa yang kita alami.. tentang sesuatu yang ingin kita bagi pada sebuah media agar tak membebani memori.

Tulisan tentang apa saja.. karena sesampah-sampahpun tulisan itu. Pasti ada hal yang bisa tertemu ketika terbaca kembali dilain waktu.

Rabu, 27 Juli 2016

Masih Punya Arti


"Kirim pesan kok hanya pas butuh tok.. huh emang aku ini apaan.. Ha mbok kemaren pas abis pulang jalan-jalan aku di watssapi dikasi oleh-oleh.. "

Batinku sesaat setelah membaca sebuah pesan dari seseorang.

Walau batinku sedikit mencibir sebenarnya hatiku merasa lega dan bersyukur.. ternyata aku masih ada guna buat orang lain.

Aku jadi ingat dengan temanku waktu SMA dulu.. sebut saja namanya Iman. Temanku itu dulu betul-betul menyusahkan, suka sekali main kerumahku hanya untuk mengisi lagu.. padahal di sekolah aku tidak dekat dengannya. Jadi aku merasa jengkel ketika dia mengabariku dia akan main kerumahku. Namun seiring berjalannya waktu ketika dia sudah tidak lagi datang.. entah mengapa aku merasa kehilangan..

Bukan kehilangan sosok ini bocah tentu saja.. tapi suatu yang hilang itu justru dari diriku sendiri.. ada perasaan bahwa aku tak lagi dibutuhkan.. tak lagi mampu memberi sesuatu pada orang lain.

Aku memetik sebuah kesimpulan.. terkadang kita begitu ingin terlihat mandiri.. bisa melakukan sesuatu sendiri.. lalu enggan meminta bantuan atau pertolongan orang lain..

Padahal dari meminta bantuan orang lain.. seremeh apapun itu.. bisa jadi itulah jalan akan terus adanya silaturahmi.. jalan untuk membuat orang menjadi punya arti. Asal minta bantuannya enggak Bossy.

Aku akhirnya bisa memaklumi.. mengapa orang tiba-tiba melakukan kontak padaku minta tolong ini itu... aku melakukan kontak pada orang lain minta bantuan itu ini.. bukan semata karena lagi butuh.

Tapi mungkin juga karena kangen, mungkin juga karena sudah lama tak terjadi interaksi... atau mungkin.. sekedar menyadarkan orang bahwa ia masih punya arti.

Selasa, 26 Juli 2016

Gramedia Atau Togamas?


Di kota saya ada 2 toko buku besar Gramedia dan Togamas, saya suka belanja buku (dan barang lainnya) di kedua toko tersebut.

Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya memberi manfaat bagi saya.

Togamas hobi memberi diskon, bahkan sampai dengan 30% dalam suatu rentang waktu, berlaku untuk hampir semua jenis buku. Gramedia suka menggelar pameran, bahkan ketika hari biasa masih ada jajaran buku murah tergelar di basement.

Gramedia atau Togamas? Tak ada masalah, keduanya saling melengkapi untuk memuaskan hobi. Bahkan ada tempat ketiga yang siap dikunjungi sebagai alternatif mencari buku yang menawarkan sesuatu yang tak ada diantara toko buku besar tersebut. Lapak buku bekas. Lain kali saya akan cerita.


Jumat, 24 Juni 2016

Adzan Maghrib Sebagai Peluit Tanda Berhentinya Pertandingan.



Kebakaran Pasar Klewer yang terjadi tahun 2014 berimbas pada hilangnya lapangan untuk bermain sepakbola karena alun-alun utara yang dulunya berupa tanah lapang dirubah menjadi tempat relokasi pedagang.

Masjid Agung Surakarta, masjid megah yang berdiri persis di sebelah barat alun-alun utara tak hanya mempunyai bangunan utama yang luas.. halamannya pun demikian, yang berfungsi untuk lahan parkir jamaah, menyembelih kurban saat Idul Adha, pembagian zakat fitrah dan acara keagamaan lainnya.

Namun di hari biasa.. halaman masjid agung yang berpasir seakan menjadi penyelamat bagi anak-anak sekitar untuk menuntaskan hasrat bermain bola secara sederhana yang penting bahagia, bola plastik yang sudah bocor, tiang gawang dari sepeda, dan tentu saja.. adzan maghrib sebagai peluit tanda berhentinya pertandingan.





Sabtu, 18 Juni 2016

Malam Minggu


Hujan kali ini bukan hanya mengalahkanmu, tapi juga mengalahkanku.. Apalah jadinya tempat itu tanpa kemesraan kita berdua.. hampa.




Jumat, 10 Juni 2016

Ramadhan Tanpa Cinta


Aku ingin ramadhan tanpa cinta
Ramadhan yang tanpa membuat luka
Ramadhan seperti dulu kala
Yang membuatku hanya mengerti bahagia

Tak perlu susah payah begini
Tak usah membuat marah dan sakit hati

Bisakah ramadhan tanpa cinta..?
Sebab aku ingin beribadah hanya karenaNya saja.


Minggu, 05 Juni 2016

Ribet dan Ngabisin Duit!

Dulu sewaktu kecil orang-orang dikampung saya sangat senang sekali menggelar acara hajatan.. bukan hanya orang nikah, sunatan, kelahiran bayi pun seringkali dihelat megah, lengkap dengan tamu undangan dan panggung hiburan yang wah.

Saya masih ingat waktu itu kakak saya disunat, karena barengan dengan kelahiran (almarhumah) adik saya, maka ayah kami membuat hajatan dirumah.. jaman dulu tanah masih tersisa luas tak seperti sekarang. Orang-orang biasa menggelar hajatan di kampung tanpa mengganggu jalanan, tak perlu sewa gedung pula. Waktu itu ayah menggelar acara hajatan di kebun samping rumah. Acaranya ramai selayaknya acara orang nikahan, kami para anak didandani dengan pakaian adat Jawa. sayapun demikian walau yang disunat kakak saya.. sepanjang acara saya memakai kain jarik dan berjalan sangat kepayahan.. pengalaman yang tidak menyenangkan.

Tahun tahun berganti hingga giliran saya disunat.. beruntung waktu itu acara hajatan untuk orang sunat dan kelahiran bayi sudah tak begitu ngetren.. saya bilang beruntung sebab saya sendiri juga ogah sunatan pake dirayakan.. ngabisin duit.. ribet pula. Akhirnya setelah disunat saya hanya berbaring dirumah sambil menanti aliran angpao dari teman-teman ayah saya.. hoho. Namun ibu tetap menggelar acara bancakan yang dibagikan untuk orang-orang. Seperti itu saja tanpa acara hajatan besar ala jaman dulu dan acara syukuran atau selamatan itupun lebih dari cukup.

Waktu berlalu kini usia saya mulai mendekati usia wajib nikah (bagi rakyat Indonesia). Sayapun berandai kapan ya acara hajatan nikahan hilang dari peredaran. Sebab saya tak suka pesta-pesta, saya mengidamkan acara nikahan yang private untuk keluarga dan orang-orang terdekat saja. Asalkan sah dimata agama, dihukum negara, itu sudah ideal bagi saya.

Gini deh.. dulu waktu kecil marak hajatan untuk kelahiran bayi dan sunatan.. lalu seiring perkembangan jaman hajatan gituan udah nggak jamak terjadi.. paling syukuran doang dengan nasi bancakan atau nasi kotak. Lah itu bisa.. dan fine fine aja kaan.. jadi.. bisa kale ntar pas saya nikah.. acara hajatan buat orang nikahan juga udah basi dan nggak ngetren lagi. Why... ribet dan ngabisin duit!


Jumat, 19 Februari 2016

Membuat Jagrakan Rak Buku Dari Kardus


Dulu.. ketika buku bacaan saya masih sedikit saya menempatkannya di dalam rak buku hasil do it yourself dari bahan kardus yang disusun memanjang, namun ketika jumlah buku semakin banyak saya berpikir untuk mengubah tampilan memanjang horisontal menjadi tegak bertumpuk vertikal.

Masalahnya rak buku dari bahan kardus tentu tak sanggup menahan beban buku yang dalam satu box nya memuat rata-rata 25 buku. Alhasil terpikirlah ide membuat jagrakan atau penyangga yang berbentuk mirip gawang sepakbola agar rak bisa menopang beban buku-buku yang makin bertambah tiap bulan.

Bagaimana caranya... itulah yang akan share hari ini.

Mudah kok, cuma butuh waktu sejam-an per boxnya.. bahannya pun dari hasil barang bekas tak terpakai di sekitar rumah.. yuk langsung saja kita mulai..

Langkah pertama... Siapkan 3 buah papan (kayu, plastik) apa saja yang penting cukup kuat, saya dapat dari sisa bangun rumah, masih ada tempelan semennya euy, bersihin dulu... 3 papan tersebut terdiri dari 1 buah untuk bagian atas dengan ukuran 47 cm x 16,3 cm. dan 2 buah papan untuk bagian samping dengan ukuran 26,5 cm x 16,3 cm.. ukuran menyesuaikan rak masing-masing sih sebenarnya.. lihat gambar.

(Papan yang masih mentah dan kotor)

Langkah kedua... Agar papan terlihat enak dipandang bungkus menggunakan kertas yang cukup tebal, saya menggunakan kalender tahun lama.. joss kan daripada dikiloin.. bungkus yang rapi pakai double tape agar rekat. bisa sambil nonton tipi nih. lihat gambar.

(Bungkus pake kalender sama selotip dan double tape)

(Udah selesai dibungkus)

Langkah Ketiga... Setelah papan terlihat bersih sehat rapi indah, tinggal disusun deh mengelilingi rak buku kardus, bis itu dipaku sisi tepinya, jadi siapkan aja paku kecil-kecil dan palu. tok tok tok pukul yang kuat yach... lihat gambar

(Dipaku di kedua tepinya)

(Udah dipaku, biar kuat menopang buku)

Daan... selesai, dah gitu aja, rak buku dari kardus kini sudah ada jagrakan atau penyangganya.. sudah siap diisi buku-buku koleksi, lummayan kan dari bahan nggak terpakai bisa dimanfaatkan jadi sesuatuuuh. Pokoknya murah meriah dah kagak pake keluar banyak duit. 

(Box nya udah ada ada penyangganya nih...)

Mau lihat rak buku dari kardus punya saya.. nih gambarnya.. asik kan... Selamat mencoba..








Minggu, 07 Februari 2016

Hari Ini Pasti Menang


Saya suka timnas sepakbola Indonesia, walau kalok maen sering kalah saya tetap teriak hari ini pasti menang...
Saya suka ikut GA, walau kalok ikut sering kalah saya tetap teriak hari ini pasti menang....






Video ini diikutsertakan dalam Giveaway Kece Stand Up Comedy on the Blog