Tampilkan postingan dengan label Sekitar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Kisah


Ibu kawan saya kemarin tiba-tiba panjang lebar menceritakan keluh kesah tentang perihal kesusahan yang dialaminya, saya hanya bisa diam dan mendengarkan.

Ibu-ibu penjual di warung makan langganan saya juga tiba-tiba menghujamkan ribuan cerita masa lalunya tepat di depan saya yang lagi asik menikmati es kopi dua ribuan di warungnya.

Apakah wanita memang didesain untuk bercerita pada siapa saja yang ditemuinya, bahkan kepada orang yang belum terlalu kenal??
Atau apakah muka saya sudah sangat sempurna miripnya dengan buku diary sehingga membuat mereka bergairah untuk menceritakan masalah dan cerita kehidupannya??

Ah.. kisah.. setiap manusia baik sengaja atau tidak suka berbagi kisah, lisan atau tulisan beribu kisah per harinya siap tertumpah ruah, online atau offline tersebar secara luar biasah, di koran, di blog di manapun ada kisah, saya ralat bukan hanya wanita, pria pun ikut meramaikan khasanah. 

Kisah, apakah benar kisah yang telah terpublish di blog pribadi, kita ingin semua orang tahu, kita ingin semua orang membaca.. atau hanya karena nafsu sesaat saja,  dimana orang yang kebetulan membongkar file lama kita akan bertanya-tanya, dulu gitu kok sekarang gini. Kisah tak semua orang mau mengerti, tak semua ingin memahami.. tapi toh setiap kisah tetap tersampaikan karena memang niatnya hanya untuk berbagi.

Selasa, 16 Agustus 2016

Tidak Ada Orang Jahat Di Masjid


Hari itu setelah adzan bergema aku beranjak dari tempat dudukku di sudut ruangan dan bergegas berwudhu, setelah itu berjalanlah aku menuju ruang utama masjid, lalu terdengar suara rekaman dari takmir lewat speaker memohon untuk mematikan sejenak handphone masing-masing ketika shalat. Reflek aku menggerayangi kantong celanaku dan tak menemukan hapeku disana, akupun segera berputar menuju tempatku semula tadi saat menunggu adzan.

Alhamdulillah hapeku masih disana tergeletak disamping bapak-bapak. Aku segera berkata bahwa hape itu punyaku.. lalu segera mengambilnya dan mengucapkan terimakasih. Bapak tadi telah menunda wudhunya dan berada disana menunggu sampai pemilik hape kembali, yaitu aku.

Bapak itu bisa saja mengambil hapeku dan pergi namun itu tidak ia lakukan. Subhanallah. Tidak ada orang jahat di masjid.


Senin, 15 Agustus 2016

Aku rindu bermain bola di lapangan, bersama teman-teman di kampungku.


Lapangan hijau yang luas, yang rumputnya tumbuh tak beraturan, yang bahkan sebagian tanahnya retak ketika musim kemarau datang, membentuk lubang-lubang, menjadi sarang bagi binatang sejenis laba-laba garang.

Aku rindu dengan sore yang kuhabiskan di tanah lapang, menyeberang di tepi perkuburan. Mengumpulkan daun cemara yang gugur, menyusunnya membentuk huruf huruf dan kemudian.. api membakar. Kami tertawa riang.

Aku rindu pada kakiku menyentuh tanah.. sebab aspal hanya ada di tengah sana, di jalan raya.

Aku rindu pada bau matahari, dan karena hanya itu yang menerangi. Hari-hari.

Aku rindu pada semua yang hilang.. pada kawan-kawan yang satu persatu mulai pergi berlayar mengarungi samudera kehidupan.



Jumat, 05 Agustus 2016

Beragam Nama, Yang Jualan (Dijual) Ya Itu-Itu Saja.


Banyak nama untuk acara jualan buku di kotaku ini, sebut saja bazar buku murah, pesta sejuta buku, pameran buku, pasar buku.. blablabla..

Namun ketika pernah ke salah satu acara jualan buku tersebut.. rasanya malas untuk pergi ke acara jualan buku selanjutnya.. hla piye jal.. isinya sama, yang jualan sama, harganya sama. Yang jaga parkir sama?? Penjual yang nangkring didepan venue pun sama??? Bosen ga sih... Ga variatif. Ga kreatif. Tempat sama namane thok yang diganti.

Tiba-tiba otak saya berimajinasi liar.. gimana kalok pemerintah kota ini hanya menyediakan tempatnya saja untuk sebuah acara bertajuk pesta buku.. minus lapak-lapak monoton itu.. minus penerbit buku-buku gaje itu (no mention ntar disambit.. :p)

Trus siapa yang jualan? Yang datang kesitu! Yang membeli? Ya yang datang kesitu.

Mengadopsi sistem toko online, siapapun bisa berperan sebagai penjual dan pembeli.. jadi setiap peserta pesta buku yang datang bisa punya pilihan mengapa ia datang kesitu untuk liat-liat kah, beli buku kah, barter kah, jualan kah... nyari gebetan kah... (eaaa.. jomblo seneng nih yee..)

Enak kaan.. jadi dari rumah kita bisa bawa buku yang kira-kira udah g kebaca.. (terserah jumlahnya..dibikin asik aja tapi ga usah sekarung dibawa semua) trus dijual disana.. asik kite pergi bawa buku pulang bawa doku.

Disana kita memungkinkan bertemu dengan orang yang punya hobi sama. Jika ingin jualan kita tinggal duduk dan gelar "dagangan" kita.. jika ingin hunting tinggal berdiri jalan muterin venue.

Dari situ bukan tak mungkin dari setiap transaksi bisa berujung saling kenalan.. bikin komunitas..

Kedepannya komunitas pecinta buku pun jadi punya tempat untuk mengaktualisasi diri..

Kapan ya impian gilaku ini akan tercipta.. setidaknya acara pesta buka, bazar buku, pameran buku tak lagi menjadikan buku hanya sebagai komoditi, udah gitu dimonopoli.. kemon biarkan pecinta buku berpesta dengan caranya sendiri.



Selasa, 26 Juli 2016

Gramedia Atau Togamas?


Di kota saya ada 2 toko buku besar Gramedia dan Togamas, saya suka belanja buku (dan barang lainnya) di kedua toko tersebut.

Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya memberi manfaat bagi saya.

Togamas hobi memberi diskon, bahkan sampai dengan 30% dalam suatu rentang waktu, berlaku untuk hampir semua jenis buku. Gramedia suka menggelar pameran, bahkan ketika hari biasa masih ada jajaran buku murah tergelar di basement.

Gramedia atau Togamas? Tak ada masalah, keduanya saling melengkapi untuk memuaskan hobi. Bahkan ada tempat ketiga yang siap dikunjungi sebagai alternatif mencari buku yang menawarkan sesuatu yang tak ada diantara toko buku besar tersebut. Lapak buku bekas. Lain kali saya akan cerita.


Minggu, 05 Juni 2016

Ribet dan Ngabisin Duit!

Dulu sewaktu kecil orang-orang dikampung saya sangat senang sekali menggelar acara hajatan.. bukan hanya orang nikah, sunatan, kelahiran bayi pun seringkali dihelat megah, lengkap dengan tamu undangan dan panggung hiburan yang wah.

Saya masih ingat waktu itu kakak saya disunat, karena barengan dengan kelahiran (almarhumah) adik saya, maka ayah kami membuat hajatan dirumah.. jaman dulu tanah masih tersisa luas tak seperti sekarang. Orang-orang biasa menggelar hajatan di kampung tanpa mengganggu jalanan, tak perlu sewa gedung pula. Waktu itu ayah menggelar acara hajatan di kebun samping rumah. Acaranya ramai selayaknya acara orang nikahan, kami para anak didandani dengan pakaian adat Jawa. sayapun demikian walau yang disunat kakak saya.. sepanjang acara saya memakai kain jarik dan berjalan sangat kepayahan.. pengalaman yang tidak menyenangkan.

Tahun tahun berganti hingga giliran saya disunat.. beruntung waktu itu acara hajatan untuk orang sunat dan kelahiran bayi sudah tak begitu ngetren.. saya bilang beruntung sebab saya sendiri juga ogah sunatan pake dirayakan.. ngabisin duit.. ribet pula. Akhirnya setelah disunat saya hanya berbaring dirumah sambil menanti aliran angpao dari teman-teman ayah saya.. hoho. Namun ibu tetap menggelar acara bancakan yang dibagikan untuk orang-orang. Seperti itu saja tanpa acara hajatan besar ala jaman dulu dan acara syukuran atau selamatan itupun lebih dari cukup.

Waktu berlalu kini usia saya mulai mendekati usia wajib nikah (bagi rakyat Indonesia). Sayapun berandai kapan ya acara hajatan nikahan hilang dari peredaran. Sebab saya tak suka pesta-pesta, saya mengidamkan acara nikahan yang private untuk keluarga dan orang-orang terdekat saja. Asalkan sah dimata agama, dihukum negara, itu sudah ideal bagi saya.

Gini deh.. dulu waktu kecil marak hajatan untuk kelahiran bayi dan sunatan.. lalu seiring perkembangan jaman hajatan gituan udah nggak jamak terjadi.. paling syukuran doang dengan nasi bancakan atau nasi kotak. Lah itu bisa.. dan fine fine aja kaan.. jadi.. bisa kale ntar pas saya nikah.. acara hajatan buat orang nikahan juga udah basi dan nggak ngetren lagi. Why... ribet dan ngabisin duit!


Rabu, 27 Januari 2016

Seperti Itu, Karena Memang Harusnya Seperti Itu.


Tadi sore saya ke gramedia.. melihat satu keluarga ayah ibu anak keluar dari mobil di parkiran lalu berjalan bersama masuk menuju toko, ketika mereka sudah hilang dari pandangan saya melihat mobilnya, bagus.. duh hati saya langsung berdesir.. enak kali ya jadi orang kaya.. naik mobil, menikmati suasana hari libur ketempat yang diinginkan bareng orang yang disayangi, hari itu saya juga ke gramedia, naik sepeda, dan saya ke gramedia bukan untuk ke lantai atas yang berisi buku-buku baru yang harganya rata-rata lima puluh ribu itu.. saya cukup puas menyusuri tumpukan buku obral terbitan tahun lama di lantai dasar yang menyatu dengan parkiran, disitu untuk satu buku yang dijual di lantai atas, bisa dapat 3 buku. Sudah lama saya menyambangi toko buku terbesar di solo ini, dan selama itu pula nyaris saya tak pernah pergi ke lantai atas.. buat apa, cuma bikin saya mupeng.. saya tak punya duit untuk mengambil satu barang disana.. ah kembali ke orang kaya tadi, saya juga pernah menemui orang yang serupa, ketika saya sedang berada di beranda masjid agung selesai shalat, datanglah sekeluarga yang nampak bahagia, keluar dari mobil plat luar kota, anaknya dua, satu laki satu perempuan, menenteng sebuah kamera dslr, berfotolah mereka cepret-cepret habis itu melanjutkan perjalanan.. duh bahagianya..

Saya mana bisa seperti itu.. ah.. kenapa saya harus seperti itu.. sore tadi sepulang dari gramedia saya nonton televisi, kebetulan ada acara kartun upin-ipin.. terhenyak saya menyaksikan episode dua anak kembar itu yang nelangsa, tak bisa mengimbangi permainan kawan-kawannya yang punya mobil-mobilan remote control, kedua anak itu merengek minta dibelikan.. pada akhirnya saya lupa caranya yang pasti kedua anak tersebut berhasil mendapatkan mobil mainan yang mereka sukai, walau tetap tak lebih bagus dari punya ehsan yang memang terkenal anak dari keluarga berada.. upin dan ipin ini film yang sangat mendidik, datang dari keluarga pas-pasan namun entah saya menyebutnya apa namun bahagia...

Saya masih menyimpan rasa jika suatu saat saya bisa beli mobil, beli ini-itu sesuai keinginan saya, tapi... kembali lagi apa iya itu akan membuat saya bahagia...? kalau ternyata tidak.. lantas kenapa saya harus begitu menggebu mendambakannya... Saya rasa Tuhan tahu, Tuhan ngerti rancangan otak manusia, tentang keinginan yang tak pernah akan terpuaskan, bagaimana kalau saya memulai melihat apa yang pernah saya impikan dan sekarang sudah terpunya.. sekecil apapun itu.. mampukah saya menjaganya... bahagia dengannya.... seperti itu, karena memang harusnya seperti itu.



Senin, 27 Juli 2015

Tentang Papan dan Tenda Rest Area


Menjelang lebaran.. ada beberapa hal yang saya sukai ketika menjejakkan kaki berada di jalanan, hal yang hanya bisa ditemui ketika bulan ramadhan akan memasuki garis finish, yang pertama adalah tanda atau papan penunjuk arah yang dipasang di persimpangan-persimpangan jalan, yang kedua adalah tenda-tenda non permanen yang sengaja didirikan di titik-titik jalan besar yang biasanya berfungsi sebagai rest area.

Saya begitu suka pada keduanya, entahlah, seakan ada perasaan damai, teduh dan menyenangkan ketika melihatnya. Mungkin karena ada kaitan dengan hubungan antar manusia, saling bantu-membantu, sehingga membuat hati ini begitu senang melihatnya.


Begitu pula ketika hari raya lebaran berangsur menjauh, sekitar satu atau dua minggu kemudian, saat papan-papan penanda arah itu disingkirkan dari jalanan, tenda-tenda kembali dibongkar dan dirapikan, tata kota mungkin akan kelihatan sedikit bersih, namun justru membuat perasaan ini menjadi sedih sedemikian rupa.

Seperti hari ini, ketika sebuah pos polisi yang awalnya dalamnya berisi segala hal yang mebantu proses mudik, mulai dari meja-meja sampai layar portabel yang menayangkan gambar dari cctv mulai dibongkar, perasaan tak enak itu kembali muncul.

Mungkin saya merasa sedih karena itu pertanda lebaran telah lewat, mungkin saya merasa sendu karena kebersamaan masyarakat itu segera berlalu.. mungkin. Lepas dari itu perasaan ini akan mereda seiring berjalannya waktu, dan akan kembali membuncah bilamana menemui hal seperti itu tahun esok.