Jumat, 19 Februari 2016

Membuat Jagrakan Rak Buku Dari Kardus


Dulu.. ketika buku bacaan saya masih sedikit saya menempatkannya di dalam rak buku hasil do it yourself dari bahan kardus yang disusun memanjang, namun ketika jumlah buku semakin banyak saya berpikir untuk mengubah tampilan memanjang horisontal menjadi tegak bertumpuk vertikal.

Masalahnya rak buku dari bahan kardus tentu tak sanggup menahan beban buku yang dalam satu box nya memuat rata-rata 25 buku. Alhasil terpikirlah ide membuat jagrakan atau penyangga yang berbentuk mirip gawang sepakbola agar rak bisa menopang beban buku-buku yang makin bertambah tiap bulan.

Bagaimana caranya... itulah yang akan share hari ini.

Mudah kok, cuma butuh waktu sejam-an per boxnya.. bahannya pun dari hasil barang bekas tak terpakai di sekitar rumah.. yuk langsung saja kita mulai..

Langkah pertama... Siapkan 3 buah papan (kayu, plastik) apa saja yang penting cukup kuat, saya dapat dari sisa bangun rumah, masih ada tempelan semennya euy, bersihin dulu... 3 papan tersebut terdiri dari 1 buah untuk bagian atas dengan ukuran 47 cm x 16,3 cm. dan 2 buah papan untuk bagian samping dengan ukuran 26,5 cm x 16,3 cm.. ukuran menyesuaikan rak masing-masing sih sebenarnya.. lihat gambar.

(Papan yang masih mentah dan kotor)

Langkah kedua... Agar papan terlihat enak dipandang bungkus menggunakan kertas yang cukup tebal, saya menggunakan kalender tahun lama.. joss kan daripada dikiloin.. bungkus yang rapi pakai double tape agar rekat. bisa sambil nonton tipi nih. lihat gambar.

(Bungkus pake kalender sama selotip dan double tape)

(Udah selesai dibungkus)

Langkah Ketiga... Setelah papan terlihat bersih sehat rapi indah, tinggal disusun deh mengelilingi rak buku kardus, bis itu dipaku sisi tepinya, jadi siapkan aja paku kecil-kecil dan palu. tok tok tok pukul yang kuat yach... lihat gambar

(Dipaku di kedua tepinya)

(Udah dipaku, biar kuat menopang buku)

Daan... selesai, dah gitu aja, rak buku dari kardus kini sudah ada jagrakan atau penyangganya.. sudah siap diisi buku-buku koleksi, lummayan kan dari bahan nggak terpakai bisa dimanfaatkan jadi sesuatuuuh. Pokoknya murah meriah dah kagak pake keluar banyak duit. 

(Box nya udah ada ada penyangganya nih...)

Mau lihat rak buku dari kardus punya saya.. nih gambarnya.. asik kan... Selamat mencoba..








Minggu, 07 Februari 2016

Hari Ini Pasti Menang


Saya suka timnas sepakbola Indonesia, walau kalok maen sering kalah saya tetap teriak hari ini pasti menang...
Saya suka ikut GA, walau kalok ikut sering kalah saya tetap teriak hari ini pasti menang....






Video ini diikutsertakan dalam Giveaway Kece Stand Up Comedy on the Blog



Rabu, 27 Januari 2016

Seperti Itu, Karena Memang Harusnya Seperti Itu.


Tadi sore saya ke gramedia.. melihat satu keluarga ayah ibu anak keluar dari mobil di parkiran lalu berjalan bersama masuk menuju toko, ketika mereka sudah hilang dari pandangan saya melihat mobilnya, bagus.. duh hati saya langsung berdesir.. enak kali ya jadi orang kaya.. naik mobil, menikmati suasana hari libur ketempat yang diinginkan bareng orang yang disayangi, hari itu saya juga ke gramedia, naik sepeda, dan saya ke gramedia bukan untuk ke lantai atas yang berisi buku-buku baru yang harganya rata-rata lima puluh ribu itu.. saya cukup puas menyusuri tumpukan buku obral terbitan tahun lama di lantai dasar yang menyatu dengan parkiran, disitu untuk satu buku yang dijual di lantai atas, bisa dapat 3 buku. Sudah lama saya menyambangi toko buku terbesar di solo ini, dan selama itu pula nyaris saya tak pernah pergi ke lantai atas.. buat apa, cuma bikin saya mupeng.. saya tak punya duit untuk mengambil satu barang disana.. ah kembali ke orang kaya tadi, saya juga pernah menemui orang yang serupa, ketika saya sedang berada di beranda masjid agung selesai shalat, datanglah sekeluarga yang nampak bahagia, keluar dari mobil plat luar kota, anaknya dua, satu laki satu perempuan, menenteng sebuah kamera dslr, berfotolah mereka cepret-cepret habis itu melanjutkan perjalanan.. duh bahagianya..

Saya mana bisa seperti itu.. ah.. kenapa saya harus seperti itu.. sore tadi sepulang dari gramedia saya nonton televisi, kebetulan ada acara kartun upin-ipin.. terhenyak saya menyaksikan episode dua anak kembar itu yang nelangsa, tak bisa mengimbangi permainan kawan-kawannya yang punya mobil-mobilan remote control, kedua anak itu merengek minta dibelikan.. pada akhirnya saya lupa caranya yang pasti kedua anak tersebut berhasil mendapatkan mobil mainan yang mereka sukai, walau tetap tak lebih bagus dari punya ehsan yang memang terkenal anak dari keluarga berada.. upin dan ipin ini film yang sangat mendidik, datang dari keluarga pas-pasan namun entah saya menyebutnya apa namun bahagia...

Saya masih menyimpan rasa jika suatu saat saya bisa beli mobil, beli ini-itu sesuai keinginan saya, tapi... kembali lagi apa iya itu akan membuat saya bahagia...? kalau ternyata tidak.. lantas kenapa saya harus begitu menggebu mendambakannya... Saya rasa Tuhan tahu, Tuhan ngerti rancangan otak manusia, tentang keinginan yang tak pernah akan terpuaskan, bagaimana kalau saya memulai melihat apa yang pernah saya impikan dan sekarang sudah terpunya.. sekecil apapun itu.. mampukah saya menjaganya... bahagia dengannya.... seperti itu, karena memang harusnya seperti itu.



Kamis, 22 Oktober 2015

WARNING: NTLDR IS MISSING!


Saya baru seminggu beli CPU bekas dan bergaransi 7 hari.. sayang di pemakaian hari ke 8 CPU saya mengalami crash, tidak bisa booting.. dan di layar monitor cuma ada tulisan "NTLDR IS MISSING PRESS ALT+CTRL+DEL TO RESTART"

Dari hasil googling sih ini masalah sepertinya cukup berat, dari semua postingan yang saya baca masalah seperti ini membutuhkan rebooting lewat dvdroom dengan step yang cukup njlimet.. bahkan sebagian artikel menganjurkan diinstal ulang saja.. Ah pokoknya ribet dan bikin pusing kepala deh..

Namun kekawatiran saya lenyap tatkala seseorang memberitahu saya.. ternyata masalah NTLDR IS MISSING bisa jadi karena hal sepele loh... yaitu kabel yang terpasang di hdd internal tidak tercolok dengan tepat... menganga, goyang, agak lepas sedikit..

Ya! itu mungkin saja masalah yang menyebabkan windows tidak berjalan dan di monitor cuma ada tulisan NTLDR IS MISSING...

Jadi.. bila PC anda tidak bisa berjalan dengan semestinya karena NTLDR IS MISSING, tenangkan hati.. matikan aliran listrik.. bongkar sidecase CPU.. rapikan kembali kabel-kabel yang terpasang.. pastikan semua tercolok dengan benar dan kuat tidak goyah.. lalu coba hidupkan PC anda kembali...

Semoga berhasil! karena punya saya berhasil. and ntldr is NO LONGER missing.


Rabu, 12 Agustus 2015

Lima Puluh Ribu Lima Buku


Bulan kemarin tepat sehari sebelum hari raya Idul Fitri saya menyempatkan diri mengunjungi kios buku bekas langganan, tempatnya terletak di sebelah utara alun-alun utara kota Solo. Biasanya jelang hari lebaran orang-orang menganggarkan uang untuk membeli baju baru, tapi saya malah nekat membeli buku, Hal ini bukan tanpa alasan, sebab ketika hari raya saya tak kemana-mana, jadi bukulah yang akan menjadi teman saya berdiam diri dirumah, pilihan yang tepat daripada membeli baju baru. Makanya hari itu disaat orang-orang sibuk memilih baju, saya sibuk menenggelamkan diri dalam tumpukan buku-buku.

Setelah berjibaku dengan ratusan buku yang kadang membuat hidung bersin karena berdebu, terpilihlah 3 buah buku yang akan menjadi teman saya mengisi liburan hari raya lebaran. 3 buah buku yang awalnya dilabeli harga 40 ribu rupiah oleh sang penjual itu, akhirnya menjadi milik saya dengan banderol 30 ribu. Ada yang unik waktu proses tawar menawar, awalnya bapak penjual sok tidak peduli dengan tawaran saya, ia tetap keukeuh dengan harga 35 ribu rupiah, sambil "pura-pura" sibuk ngobrol dengan penjual sebelah, ia terkesan menolak tawaran saya di angka 30 ribu rupiah. Saya baru tahu kepura-puraan itu setelah saya beranjak pergi ke parkiran, tiba-tiba tanpa komando bapak tadi menguntit saya, saya kagetlah, dan dia spontan bilang "Jadi bukunya, 35 ribu ya.." Eh udah dibilangin saya maunya 30 ribu kok. Dan seperti yang kerap terjadi dalam dunia tawar-menawar bapak penjual itu akhirnya melepas buku yang didapatnya entah darimana tersebut dengan harga seperti yang saya inginkan, 30 ribu. Rejeki buat lebaran besok mana mungkin dia tolak, batin saya.


Anyway sebulan berlalu saya kembali membeli buku, kali ini di sebuah tempat yang lebih enak, lebih bersih, lebih dingin karena ber AC, ya dimana lagi kalau bukan salah satu toko buku besar di Indonesia Gramedia. Rupanya disana sedang ada pameran buku dari penerbit KPG, kebetulan deh saya suka buku nonfiksi dan KPG paling sering menerbitkan buku-buku dengan genre tersebut, jadilah malam itu saya sedikit kalap melihat judul-judul buku yang ditumpuk rapi di area pameran, wuiih keren-keren pikir saya, dan walaupun buku yang dijual di pameran adalah terbitan 3 atau 4 tahun lalu, namun menarik juga sebab harga yang tertera di belakang buku rata-rata adalah 15 ribuan.. asiiik. Eh ada juga buku baru biografi Andy Noya yang didiskon 20 %, lucunya kata mbaknya yang jaga kasir diskon hanya berlaku di pameran yang berada di lantai bawah ini, jika beli di atas harga tetap sama.. hahaha ya masak beli harus naik lantai keatas harga malah lebih mahal. Saya sungguh tertarik dengan bukunya namun tidak tertarik dengan harganya, walau sudah diskon 20% jadi 72 ribu pun, masih kemahalan atuh buat saya harga segitu.

Akhirnya malam itu saya harus puas dengan hanya mengelus-elus kepala plontos Andy Noya di cover buku, tanpa bisa membawanya pulang. Dan sebagai penawar kecewa, hari itu saya yang cuma membawa uang 50 ribu untuk anggaran belanja beli buku, tanpa basa-basi saya pakai semuanya, habis malam itu untuk membawa pulang buku-buku ini yang harganya masing-masing 10 ribu rupiah saja, murah. Buku baru lagi bukan bekas. hehe. Lima puluh ribu lima buku.




Senin, 27 Juli 2015

Tentang Papan dan Tenda Rest Area


Menjelang lebaran.. ada beberapa hal yang saya sukai ketika menjejakkan kaki berada di jalanan, hal yang hanya bisa ditemui ketika bulan ramadhan akan memasuki garis finish, yang pertama adalah tanda atau papan penunjuk arah yang dipasang di persimpangan-persimpangan jalan, yang kedua adalah tenda-tenda non permanen yang sengaja didirikan di titik-titik jalan besar yang biasanya berfungsi sebagai rest area.

Saya begitu suka pada keduanya, entahlah, seakan ada perasaan damai, teduh dan menyenangkan ketika melihatnya. Mungkin karena ada kaitan dengan hubungan antar manusia, saling bantu-membantu, sehingga membuat hati ini begitu senang melihatnya.


Begitu pula ketika hari raya lebaran berangsur menjauh, sekitar satu atau dua minggu kemudian, saat papan-papan penanda arah itu disingkirkan dari jalanan, tenda-tenda kembali dibongkar dan dirapikan, tata kota mungkin akan kelihatan sedikit bersih, namun justru membuat perasaan ini menjadi sedih sedemikian rupa.

Seperti hari ini, ketika sebuah pos polisi yang awalnya dalamnya berisi segala hal yang mebantu proses mudik, mulai dari meja-meja sampai layar portabel yang menayangkan gambar dari cctv mulai dibongkar, perasaan tak enak itu kembali muncul.

Mungkin saya merasa sedih karena itu pertanda lebaran telah lewat, mungkin saya merasa sendu karena kebersamaan masyarakat itu segera berlalu.. mungkin. Lepas dari itu perasaan ini akan mereda seiring berjalannya waktu, dan akan kembali membuncah bilamana menemui hal seperti itu tahun esok.


Minggu, 26 Juli 2015

Menjajal Batara Kresna, Solo Wonogiri


Seberapa persen sih orang yang melenceng dari tujuan awal ketika sedang bepergian, saya masuk didalamnya, ya itu yang terjadi ketika kemarin sabtu mengagendakan jalan-jalan ke Wonogiri, naik railbus Batara Kresna, horeee.

Sebenarnya hari Jum'at walau hanya dalam otak saya sudah membuat sketsa perjalanan, bahwa besok Sabtu pengen berangkat ke Wonogiri dari stasiun Purwosari jam 6, yang berarti saya harus bangun jam setengah lima dan mulai meninggalkan rumah jam lima sebab saya akan naik sepeda dan sampai sana musti hunting tiket pula.. tak tahunya yah seperti biasa, saya baru keluar rumah jam setengah enam, itupun harus mulai ritual panjang betapa sulitnya membujuk diri saya sendiri agar tidak tergoda mimpi.

Ya sudahlah rencana berangkat dari stasiun Purwosari pun berganti menjadi mencegat kereta dari stasiun Kota di Sangkrah, mengingat jarak yang relatif dekat dari rumah, sayapun merasa santai saja, dan benar kok, sampai sana stasiun masih relatif sepi, hanya ada 2 calon penumpang dan setelah memarkir sepeda, sayapun dengan bebas melenggang membeli tiket tanpa antre seperti yang saya khawatirkan kalau saya harus ke stasiun pemberangkatan pertama di Purwosari.


Karena susunan agenda berubah, maka waktu pun ikut merenggang, harusnya jam 6 saya sudah naik kereta di stasiun pertama, namun di titik pemberangkatan kedua ini saya musti menunggu sekitar setengah jam lagi.. lumayan bosen walau sudah disambi motret sana motret sini, sementara para calon penumpang sudah lumayan banyak yang datang, mungkin ada sekitar 25 orang, dan dari kesemuanya tentu saja didominasi kaum ibu-ibu.

Dan sekitar pukul setengah tujuh datanglah kereta mini 2 gerbong yang kursi didalamnya 90% telah terisi penumpang, tak kebayang betapa ributnya para penumpang di check point kedua ini berebut kursi, saya memilih tidak ikut-ikutan, pertama males lah kalau harus berebut dengan para orangtua itu, kedua biasa aja sih kalau harus berdiri toh jaraknya tidak terlalu jauh.


Akhrinya berangkatlah railbus berwarna merah putih itu di antara mudanya sinar mentari, perjalanan membelah kampung kota dan persawahan itu terasa begitu menyenangkan. Kontras dengan suasana di dalam kereta yang agaknya kaku sebab tak ada suatu hiburan musik koplo dari dvd atau suara riuh pengamen dan pedagang asongan yang menjajakan barang. Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam dan sempat berhenti di dua titik stasiun sebelum akhirnya gerbong benar-benar berhenti melaju di stasiun Wonogiri. Disana ratusan penumpang sudah siap berdiri di tepian rel untuk berebut kursi menuju Solo.. sillakan saja deh, saya yang sedari awal berdiri di dekat pintu langsung ngeloyor keluar stasiun.

Ah Wonogiri kembali, tak berapa lama yang lalu saya sempat survey kesini gowes naik sepeda, melihat apa yang akan saya lakukan nanti ketika saya kesini lagi naik kereta, dan tidak banyak memang pilihan untuk melancongkan diri, maka pagi itupun saya nyaris tak menemui apapun yang membuat saya tertarik. Pasar yang menyediakan berbagai barang niaga belum banyak yang buka pagi itu, dan dari seberang jalan hanya terdapat toko-toko.. ah apa menariknya.. waktu sekitar 1 jam akhirnya hanya saya gunakan untuk makan dan memutar-mutar sejenak sekitar kota, lapangan kecil depan masjid dan kantor bupati, oh iya jam 9 nanti saya harus kembali ke stasiun untuk antri tiket pulang,

Petaka mulai hadir disini, ketika habis jalan-jalan dan balik ke stasiun antrian tiket sudah mengular.. Padahal loket belum buka dan baru akan dilayani seperempat jam kemudian. Ah perasaan saya mulai tak enak, apalagi tertulis pesan setiap orang bisa mendapat 4 tiket, semakin gusar saja saya, walau akhirnya ikut bergabung dalam antrean namun waktu seakan berjalan lambat. Berapa menit sih yang dibutuhkan seseorang untuk membeli tiekt.. pertanyaan itu terus menerus saya lontarkan dalam hati melihat antrian yang stagnan, apalagi tempat saya berdiri ini sudah keluar dari gedung, tanpa peneduh, duh panasnya.


Dan akhirnya setelah mengantri selama sejam-an yang dikhawatirkan pun terjadi tiket habis dan ya begitulah, saya dan beberapa orang yang antre di depan maupun dibelakang harus menahan kecewa. Seorang ibu bahkan sampai protes di depan loket karena sudah antre lama namun tak mendapat apa-apa, dan dibales senyum manis namun berasa pahit dari mbak-mbak penjaga loket yang mukanya jerawatan. Sebenarnya saya juga dongkol sih, apalagi dengan orang yang sengaja membeli tiket banyak.. tapi ya sudahlah, saya juga rasanya malas naik kereta itu dan bertemu dengan orang-orang yang sama itu lagi-itu lagi.

Akhirnya pergilah saya dari stasiun mungil tersebut mencari bus untuk pulang.. ya pulang, sebab saya sudah jengah berada disini, tidak ada yang bisa dinikmati plus mood saya untuk explorer sudah menurun drastis paska tragedi habisnya tiket, di kejauhan saya melihat orang-orang di antrean yang berhasil mendapatkan tiket tadi dengan entengnya berjalan-jalan di sekitar pasar, ada juga yang dengan santainya menepi di warung makan menikmati kuliner, idih tambah sebel aja melihatnya.

Wonogiri sebuah daerah yang panasnya ampun-ampunan siang itu, Solo saja tidak begini-begini amat, akhirnya daripada langsuing mencegat bus saya memilih ngadem dulu di sebuah toserba, tidak membeli apa-apa cuman ngadem saja barang sejam, dan setelah itu ya pulang.

Bus besar menuju Solo bisa didapat di jalan besar, sementara untuk terminal yang letaknya di sebelah stasiun hanya melayani area seputar Wonogiri, paling jauh sukoharjo, begitu kata mas-mas satpam yang saya temui di terminal. Hari ini jadi hari terjauh saya naik bus sendirian, sebelum ini rekor saya naik bus hanyalah seputar kota Solo dengan BST nya.


Tidak mudah juga ternyata memilih naik bus, setidaknya bagi saya, intinya lihat saja di kaca depan yang ada tulisan Solo nya pasti nyampai ke Solo. Cuman masalahnya ketika dekat saya jadi ilfil bila melihat bus dalam keadaan full, tak ayal saya menghabiskan waktu berjam-jam dari hanya menunggu bus yang diidamkan. Itupun masih sempat beli minuman di minimarket dan shalat dhuhur. Akhirnya setelah shalat sebuah bus pilihan berhasil saya dapatkan, lumayan penumpangnya relatif sepi saya pun bisa duduk di deretan bangku sendirian.

Perjalanan Wonogiri menuju Solo itu terasa menyenangkan awalnya, sebab memasuki daerah Sukoharjo penumpang mulai berjejalan dan saya harus merelakan jatah kursi kosong kepada dua orang ibu-ibu yang habis pulang dari kerja, tak sampai disitu ternyata ibu-ibu tersebut duduk dengan memangku sebuah tas plastik berisi sayur mayur, ajib dah aromanya. Tapi itu bukanlah biang kejengkelan saya, sebab rasa dongkol itu tertuju pada kernet bus yang ternyata telah menipu saya dengan menaikan harga tarif, intinya saya membayar lebih mahal daripada ibu-ibu ini, sebel deh tapi gimana masak marah-marah, la wong tempat duduk saya terjepit diantara ibu-ibu, lagian kepala saya mendadak pusing setelah kehadiran dua ibu-ibu tersebut yang mebawa aroma serta yang menggelegar.


Eh btw saya belum tahu ya ini bus yang saya tumpangi akan bisa sampai mana, saya sih pengennya bisa sampai jalanan Slamet Riyadi sehingga saya kemudian bisa sambung naik BST atau jalan kaki ke parkiran stasiun kota, tapi ternyata oh ternyata bus cuma sampai sekitar daerah selepas solo baru.. Sayapun turun dini, masih lumayan jauh deh dari Slamet Riyadi, mau naik becak, angkot, taksi, ah keluar duit lagi, akhirnya saya putuskan jalan kaki saja, mutar belok ke daerah gading dan sampailah sangkrah saya jalani dengan senang hati, ternyata tidak sejauh yang dibayangkan kok (sambil senyum kecut).

Waktu menunjukkan pukul dua lebih seperempat ketika saya sampai kembali ke tempat saya berangkat tadi pagi, sepi, stasiun sudah tutup, saya langsung saja menuju parkiran eh penunggunya sudah tidak ada, terlihat sepeda saya teronggok sendirian, ada juga di seberang beberapa motor, mungkin milik penumpang yang tidak kebagian tiket pulang seperti saya, setelah mengambil sepeda pengen segera cabut eh kok ya mas-mas satpam datang nagih uang parkir, seribu rupiah melayang deh. Siang menjelang sore itu kemudian saya habiskan untuk mengunjungi masjid agung, shalat ashar disana sambil sejenak melepas lelah, masjid agung selalu menyenangkan.

Sore itu saya sampai rumah kembali jam setengah lima, tidak terlalu capek, ingin langsung mandi setelah makan tapi kok ya setelah berjumpa dengan kasur badan ini seperti tertarik magnet, tidak mau lepasss sampai pagi. Oh ternyata sampai situ capeknya baru terasa.

Kesimpulan akhir, jalan-jalan ke Wonogiri dengan railbus Batara Kresna lumayan menyenangkan, terlebih saat keberangkatan yang masih pagi menawarkan sensasi tersendiri. Namun overall saya bisa mengatakan wisata ini lebih cocok untuk kaum ibu-ibu dengan anak-anak dan suaminya plus mertua, sementara bagi saya yang berusia muda kinyis-kinyis, sepertinya cukup sekali saja deh ya.. kapook hehehe... sampai jumpa...