Senin, 15 Agustus 2016

Aku rindu bermain bola di lapangan, bersama teman-teman di kampungku.


Lapangan hijau yang luas, yang rumputnya tumbuh tak beraturan, yang bahkan sebagian tanahnya retak ketika musim kemarau datang, membentuk lubang-lubang, menjadi sarang bagi binatang sejenis laba-laba garang.

Aku rindu dengan sore yang kuhabiskan di tanah lapang, menyeberang di tepi perkuburan. Mengumpulkan daun cemara yang gugur, menyusunnya membentuk huruf huruf dan kemudian.. api membakar. Kami tertawa riang.

Aku rindu pada kakiku menyentuh tanah.. sebab aspal hanya ada di tengah sana, di jalan raya.

Aku rindu pada bau matahari, dan karena hanya itu yang menerangi. Hari-hari.

Aku rindu pada semua yang hilang.. pada kawan-kawan yang satu persatu mulai pergi berlayar mengarungi samudera kehidupan.



Jumat, 05 Agustus 2016

Beragam Nama, Yang Jualan (Dijual) Ya Itu-Itu Saja.


Banyak nama untuk acara jualan buku di kotaku ini, sebut saja bazar buku murah, pesta sejuta buku, pameran buku, pasar buku.. blablabla..

Namun ketika pernah ke salah satu acara jualan buku tersebut.. rasanya malas untuk pergi ke acara jualan buku selanjutnya.. hla piye jal.. isinya sama, yang jualan sama, harganya sama. Yang jaga parkir sama?? Penjual yang nangkring didepan venue pun sama??? Bosen ga sih... Ga variatif. Ga kreatif. Tempat sama namane thok yang diganti.

Tiba-tiba otak saya berimajinasi liar.. gimana kalok pemerintah kota ini hanya menyediakan tempatnya saja untuk sebuah acara bertajuk pesta buku.. minus lapak-lapak monoton itu.. minus penerbit buku-buku gaje itu (no mention ntar disambit.. :p)

Trus siapa yang jualan? Yang datang kesitu! Yang membeli? Ya yang datang kesitu.

Mengadopsi sistem toko online, siapapun bisa berperan sebagai penjual dan pembeli.. jadi setiap peserta pesta buku yang datang bisa punya pilihan mengapa ia datang kesitu untuk liat-liat kah, beli buku kah, barter kah, jualan kah... nyari gebetan kah... (eaaa.. jomblo seneng nih yee..)

Enak kaan.. jadi dari rumah kita bisa bawa buku yang kira-kira udah g kebaca.. (terserah jumlahnya..dibikin asik aja tapi ga usah sekarung dibawa semua) trus dijual disana.. asik kite pergi bawa buku pulang bawa doku.

Disana kita memungkinkan bertemu dengan orang yang punya hobi sama. Jika ingin jualan kita tinggal duduk dan gelar "dagangan" kita.. jika ingin hunting tinggal berdiri jalan muterin venue.

Dari situ bukan tak mungkin dari setiap transaksi bisa berujung saling kenalan.. bikin komunitas..

Kedepannya komunitas pecinta buku pun jadi punya tempat untuk mengaktualisasi diri..

Kapan ya impian gilaku ini akan tercipta.. setidaknya acara pesta buka, bazar buku, pameran buku tak lagi menjadikan buku hanya sebagai komoditi, udah gitu dimonopoli.. kemon biarkan pecinta buku berpesta dengan caranya sendiri.



Kamis, 04 Agustus 2016

Olx Atau Bukalapak?

Ada banyak aplikasi toko online yang bisa dimanfaatkan untuk hunting barang kebutuhan kesukaan namun yang terpasang di hape saya cuma dua.. Olx dan Bukalapak.

Keduanya sangat bermanfaat, saya suka hunting part sepeda dan gadget (pc, kamera). Olx dan Bukalapak (BL) punya fitur dan segmentasi jualan masing-masing.

Namun ketika harus memilih.. dari pengalaman belanja di kedua onlineshop selama ini, saya pribadi memilih Olx sebagai kampiun.

Alasannya saya belum punya rekening bank dan masih suka beli barang second lokalan (dalam kota) berbasis cod atau ketemu langsung.. Nah Olx lebih banyak dipenuhi individu (pastinya mau cod) BL kebanyakan toko atau makelar dsb.. (beberapa bahkan ga menerima cod walau berada dalam satu kota.. wealaah..) 

Olx mempunyai fitur dimana lokasi penjual yang sudah kita set tidak akan berubah jika kita keluar dari aplikasi.. sementara Bukalapak (BL) akan mereset ulang lokasi menjadi seluruh Indonesia ketika keluar dari App. (Keliatannya simpel tapi penting tauu)

Olx memungkinkan calon pembeli kontak langsung ke nomor pribadi penjual via sms, wa, telp. (Cepat, tepat). BL kontak via app message.. (balesnya jadi lama gitu..nunggu user ol dulu.. pffft)

Makanya dari 4 transaksi via Olx semuanya bisa terealisasi dengan mudah. Liat barang, suka langsung Sms, tawar, deal, janji cod, barang didapat.

Sementara via BL pernah 3 kali transaksi hasilnya gagal semua... Suka. Kontak via BL message.. nunggu lama.. ga dijawab-jawab.. ga jadi. Suka. Kontak via BL message.. janji cod.. ditungguin.. dikirimin pesan lewat BL message.. lama ga dijawab.. ga jadi.. hufft.

Jadi udah pasti buat kebutuhan saya, transaksi lewat Olx lebih joss daripada Bukalapak. Tapi karena saya suka sepeda.. Bukalapak masih sering saya buka.. disana banyak dipenuhi toko-toko besar.. sepeda dan asesoris highend berharga puluhan juta banyak bertebaran disana. Barang yang dijual pastinya lebih komplit daripada Olx yang rata-rata dipenuhi individu yang menjajakan barang sekenan. Tapi ya ibarat mall Bukalapak cuma buat tempat ngadem dan cuci mata saja.. kalok mau beli barang tetep larinya ke Olx yang lebih "merakyat".

Jadi Olx atau Bukalapak nih.. Olx aja deh.


Senin, 01 Agustus 2016

Menjawab Tantangan Aeng-Aeng Komandan Blogcamp


Giveaway terbaru Pakde Cholik.. Ndangdutan..

Nyanyi dangdut itu susah, menyesuaikan mimik muka dengan lagu lebih susah
Contohnya saat mau nyanyi lagu dari Meggy Z berjudul Sakit Gigi ini susah gimana caranya akting sakit hati karena cintaaa... (iyaaa jomblo memang pasti belum pernah diputusin)
Pada akhirnya saya menyadari..
Muka-muka orang yang sedang sakit hati dan kelaparan itu beda tipis, cekidot...







Kamis, 28 Juli 2016

Terbaca Kembali Lain Waktu


Sering saya berpikir tulisan-tulisan saya jelek. Apalagi jika dibandingan tulisan blogger lain.. saya semakin merasa minder saja.. hal itu didukung dengan fakta saya tak pernah masuk daftar pemenang di suatu giveaway jika yang dilombakan berupa tulisan.. dua kontes yang saya masuk daftar pemenang.. yaitu kontes foto dan video.

Mungkin itu yang membuat saya jarang ngepost di blog layaknya orang-orang. Karena saya sadar tulisan saya datar.. tulisan saya sampah.

***************

Sesampah-sampahnya sampah masih bisa menarik sebagian orang untuk mencari sesuatu didalamnya. Entah akhirnya ada barang yang berharga terselip di timbunan atau tidak.. sampah masih memiliki nilai untuk dikorek.. disibak-sibak.. dipilah-pilih.

Seharusnya kita memang harus meninggalkan tulisan setiap hari.. tentang apa yang kita alami.. tentang sesuatu yang ingin kita bagi pada sebuah media agar tak membebani memori.

Tulisan tentang apa saja.. karena sesampah-sampahpun tulisan itu. Pasti ada hal yang bisa tertemu ketika terbaca kembali dilain waktu.

Rabu, 27 Juli 2016

Masih Punya Arti


"Kirim pesan kok hanya pas butuh tok.. huh emang aku ini apaan.. Ha mbok kemaren pas abis pulang jalan-jalan aku di watssapi dikasi oleh-oleh.. "

Batinku sesaat setelah membaca sebuah pesan dari seseorang.

Walau batinku sedikit mencibir sebenarnya hatiku merasa lega dan bersyukur.. ternyata aku masih ada guna buat orang lain.

Aku jadi ingat dengan temanku waktu SMA dulu.. sebut saja namanya Iman. Temanku itu dulu betul-betul menyusahkan, suka sekali main kerumahku hanya untuk mengisi lagu.. padahal di sekolah aku tidak dekat dengannya. Jadi aku merasa jengkel ketika dia mengabariku dia akan main kerumahku. Namun seiring berjalannya waktu ketika dia sudah tidak lagi datang.. entah mengapa aku merasa kehilangan..

Bukan kehilangan sosok ini bocah tentu saja.. tapi suatu yang hilang itu justru dari diriku sendiri.. ada perasaan bahwa aku tak lagi dibutuhkan.. tak lagi mampu memberi sesuatu pada orang lain.

Aku memetik sebuah kesimpulan.. terkadang kita begitu ingin terlihat mandiri.. bisa melakukan sesuatu sendiri.. lalu enggan meminta bantuan atau pertolongan orang lain..

Padahal dari meminta bantuan orang lain.. seremeh apapun itu.. bisa jadi itulah jalan akan terus adanya silaturahmi.. jalan untuk membuat orang menjadi punya arti. Asal minta bantuannya enggak Bossy.

Aku akhirnya bisa memaklumi.. mengapa orang tiba-tiba melakukan kontak padaku minta tolong ini itu... aku melakukan kontak pada orang lain minta bantuan itu ini.. bukan semata karena lagi butuh.

Tapi mungkin juga karena kangen, mungkin juga karena sudah lama tak terjadi interaksi... atau mungkin.. sekedar menyadarkan orang bahwa ia masih punya arti.

Selasa, 26 Juli 2016

Gramedia Atau Togamas?


Di kota saya ada 2 toko buku besar Gramedia dan Togamas, saya suka belanja buku (dan barang lainnya) di kedua toko tersebut.

Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya memberi manfaat bagi saya.

Togamas hobi memberi diskon, bahkan sampai dengan 30% dalam suatu rentang waktu, berlaku untuk hampir semua jenis buku. Gramedia suka menggelar pameran, bahkan ketika hari biasa masih ada jajaran buku murah tergelar di basement.

Gramedia atau Togamas? Tak ada masalah, keduanya saling melengkapi untuk memuaskan hobi. Bahkan ada tempat ketiga yang siap dikunjungi sebagai alternatif mencari buku yang menawarkan sesuatu yang tak ada diantara toko buku besar tersebut. Lapak buku bekas. Lain kali saya akan cerita.